Konsep Paham Qadariyah
Oleh : Rizkia Rodhia
Rohima (11620063)
Biologi-B’11
¼çms9 ×M»t7Ée)yèãB .`ÏiB Èû÷üt/ Ïm÷yt
ô`ÏBur
¾ÏmÏÿù=yz
¼çmtRqÝàxÿøts ô`ÏB
ÌøBr&
«!$# 3 cÎ)
©!$# w
çÉitóã
$tB
BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçÉitóã $tB öNÍkŦàÿRr'Î/
3 !#sÎ)ur
y#ur& ª!$# 5Qöqs)Î/ #[äþqß xsù
¨ttB
¼çms9 4
$tBur Oßgs9 `ÏiB ¾ÏmÏRrß `ÏB @A#ur
ÇÊÊÈ
11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat
yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka
menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka
tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia.
[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa
Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat
yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah
Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan
mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Ayat di atas adalah
salah satu contoh dari ayat yang dijadikan dasar konsep pemikiran aliran
qadariah, hal ini bisa diambil dari kalimat “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”. Hal ini berarti
Allah memberikan Qadara (baca kemampuan) untuk tiap-tiap individu agar dapat
menentukan nasibnya sendiri.
Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata قَدَرَ yang artinya kemampuan dan
kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa
segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Aliran ini berpendapat
bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat
berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan
pengertian diatas, dapat dipahami bahwa qadariyah dipakai untuk nama suatu
aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam
mewujudkan perbuatan-perbuatannya.[1]
Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah berasal
dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan
kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk
pada qadar Tuhan .Dalam
bahasa Inggris qadariyah ini diartikan sebagai free will and free act, bahwa
manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatan dengan kemauan dan tenaganya.[2]
Segala tingkah laku
manusia dilakukan atas kehendak dan kemampuannya sendiri. Ia berhak atas pahala
karena kebaikan yang dilakukannya dan siksa karena kejahatan yang dilakukannya. Takdir adalah ketentuan Allah yang
diciptakanNya bagi alam semesta serta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hukum
yang dalam istilah al-Qur’an sunnatullah.[3]
Dalam ajarannya, aliran qadariyah sangat menekankan
posisi manusia dalam menentukan tingkah laku dan perbuatannya. Manusia dianggap mempunyai kekuatan untuk
melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknya itu.
Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah
yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan.[4]
Dapat
diambil contoh kecil dari kehidupan, dari segi mana saja manusia itu tidak mau
untuk diatur atau dipaksa melakukan sesuatu. Nah, inilah dasar yang dipakai
oleh aliran qadariyah ini, yaitu menyerahkan semua keputusan itu ditangan
manusia. Dalam perbuatan baik maupun buruk, karena yang menentukan suatu
perilaku itu baik atau buruk adalah mereka sendiri. Dan dari konsep, Tuhan
hanya menyediakan sarana dan prasarana bagi manusia untuk memakainya dan yang
memilih serta memilah apa-apa saja yang akan mereka pakai dalam menentukan
perilaku yang mereka lakukan.
Dalam
hal ini, akan timbul pertanyaan tentang dosa besar dan kafir. Dalam aliran
qadariyah, dosa besar yang menentukan adalah manusia itu sendiri, sehingga
manusia itu jualah yang menentukan batasan-batasan mana baik dan buruk mana
yang mendapat pahala atau yang mendapat dosa besar. Begitupula halnya dengan
penentuan seseorang itu kafir dan akan masuk neraka adalah pendapat dari manusia
itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar